Kamis, 06 Agustus 2020

SEPENGGAL CERITA TENTANG GARAM


Garam ternyata punya banyak cerita.

Dalam catatan Kitab Suci, garam punya peranan yang penting. Persembahan korban di Bait Suci harus dibubuhi garam. Tanpa garam, persembahan tidak akan diterima.

Ketika Ezra memohon kepada raja Arthasasta untuk membangun kembali Bait Suci, salah satu permintaannya adalah tersedianya garam di Bait Suci nanti. Sang Raja pun menitahkan seluruh bupati untuk menyediakan garam dalam jumlah yang fantastis: tak terbatas!

Di Timur Tengah Kuno, legalnya suatu perjanjian ditandai juga dengan garam. Namanya Perjanjian Garam. Mungkin bisa dianalogikan dengan Akta Notaris di jaman modern. Ketika kedua belah pihak sepakat dengan suatu perjanjian, mereka akan makan garam bersama. Suatu simbol bahwa perjanjian itu akan awet – sebagaimana fungsi garam sebagai pengawet – sampai selama-lamanya. Perjanjian TUHAN dengan umat Israel pun dianalogikan sebagai perjanjian garam. Perjanjian yang tidak akan lekang oleh waktu – sampai kekekalan.

Konon kabarnya - ketika Perdana Menteri Israel Menahem Begin suatu hari berkunjung ke Mesir, beliau diterima oleh Hosni Mubarak - Presiden Mesir kala itu - dan mereka duduk makan garam bersama. Entahlah berita itu benar atau tidak - saya tidak sempat mengeceknya.

Di jaman kekaisaran Romawi, garam merupakan komoditas yang sangat diburu. Bernilai tinggi. Mahal. Jika dibandingkan dengan masa kini, nilainya mungkin setara dengan emas. Punya ladang garam sama artinya dengan punya tambang emas. Jual-beli barang dibayar dengan garam.

Bangsa yang menguasai daerah penghasil garam tentu akan sangat diuntungkan. Menguasai daerah penghasil garam berarti akan memiliki sumber dana yang tak terbatas. Tidak heran, bangsa-bangsa ramai-ramai berburu garam. Tidak terkecuali, bangsa Romawi pun ikut berburu garam. Laut Mati – daerah penghasil garam terbesar di jamannya – jadi incaran. Bangsa-bangsa yang mendiami daerah sekitar Laut Mati – termasuk bangsa Yahudi – pun  harus ditaklukkan. Demi seonggok benda putih asin bernama garam.

Proses pengiriman garam yang sulit – karena mudah larut jika terkena air – membuat harganya semakin mahal. Tidak heran jika kemudian prajurit Romawi pun sering disewa untuk menjaga pengiriman garam agar tiba di tujuan dengan selamat. Upah prajurit Romawi yang disewa itu dibayar pula dengan garam.

Ketika kemudian keping uang mulai dikenal, upah prajurit Romawi mulai dibayar dengan uang yang nilainya sama dengan sejumlah garam. Dari situlah kemudian dikenal istilah Latin _*salarium*_ yang secara harfiah berarti _*uang garam (salt-money)*_. Dari kata _salarium_ itu turun kata _*salary*_ dalam bahasa Inggris, yang ditransliterasi ke bahasa Indonesia menjadi _*salaris*_ alias gaji/upah.

Melihat betapa tingginya nilai garam di jaman kekasiaran Romawi – jaman dimana Yesus hidup – tidaklah heran jika kemudian Yesus berkata kepada para murid-Nya: _kamu adalah garam dunia._ Namun, sebagai garam, Yesus mengingatkan murid-murid-Nya bahaya garam yang menjadi tawar. “Tidak ada gunanya selain dibuang dan diinjak orang,” kata Yesus.

Garam juga sering digunakan sebagai analogi bagi hikmat. Orang yang sudah berpengalaman sering disebut “sudah banyak makan garam.” Dan ternyata, secara harfiah, salah satu makna kata garam dalam bahasa Yunani adalah _wisdom (hikmat)_. Uniknya, kata “tawar” dalam bahasa Yunani ternyata juga berarti _bodoh alias tidak berhikmat._

Paulus dalam suratnya kepada jemaat di Kolose memberi nasihat supaya perkataan mereka *“dimasinkan dengan garam(TL).”* Suatu peribahasa umum di jaman gereja mula-mula yang bermakna “ucapan yang penuh hikmat.”

Seiring berjalannya waktu, harga garam semakin murah. Kini, garam bisa diperoleh dengan mudah di warung-warung dengan harga yang sangat murah. Namun, bukan berarti karena garam itu murah, tapi kemudian menjadi murahan. Tanpa garam, makanan selezat apapun akan terasa hambar.

“Dapatkah makanan tawar dimakan tanpa garam?” kata Ayub.

_Manado, 26/10/2015_
*Irlan Gampamole*
__dicopas by me dari grup wa__

Tidak ada komentar:

Loading

My Stats