Loading

Jumat, 04 Desember 2009

Cara yang Salah dalam menghukum anak



Orang tua boleh menghukum anak-anak yang bersalah tetapi dengan cara yang benar dan patut. Menghukum anak dengan cara yang salah, bukan memperbaiki keadaan, tetapi malahan merusak jiwa anak-anak yang bersangkutan.
Ada beberapa cara yang salah yang sering dilakukan oleh orang tua dalam menghukum anak :
1. Terlalu marah
Ibu bapa harus berusaha untuk bersikap setenang mungkin pada waktu menghukum anak. Kesan hukuman yang dilaksanakan dalam suasana tenang lebih berhasil daripada merotan anak dengan amarah yang mendidih. Anak tersebut menjadi ketakutan, sehingga terlupa kesalahannya yang menyebabkan ia dihukum.

2. Alat menghukum yang membahayakan
Orang tua yang terlalu beremosi waktu menghukum anak boleh jadi menggunakan alat menghukum yang dapat membahayakan anak. Benda tajam umpamanya, sekali-kali jangan digunakan. Juga benda keras dan besar sangat berbahaya. Itu dapat melukai tubuh anak bahagian dalam. Memukul anak dengan tongkat kayu, dapat menyebabkan patah tulang, atau pendarahan dalam tubuh.
Memukul anak dengan telapak tangan juga kurang baik. Orang tua yang sedang marah sehingga menampar anaknya terlalu kuat dapat menyebabkan pendarahan di kuping, atau di dada.
Janganlah menggunakan sembarang benda untuk memukul anak. Memukul anak harus direncanakan. Seorang anak sudah berkali-kali berbuat kesalahan yang sama patut dihukum. Tentu sudah direncanakan bahwa anak tersebut akan dihukum bila ia mengulangi kesalahan itu.
Menghukum anak dengan memutar salah satu lengan atau kakinya sangat berbahaya. Dalam keadaan marah orangtua tidak lagi sadar ia telah memutar lengan anak itu terlalu kuat, sehingga terkilir. Itu sudah merupakan penganiayaan yang dapat merusak kesehatan anak.
Ada juga orangtua yang cenderung menghukum anak-anaknya dengan jalan menjewer kuping atau menjepit hidungnya. Itu juga tidak baik. Tindakan semacam itu tidak mustahil menyebabkan anak itu jadi tuli atau alat penciumnya rusak.
Ibu bapa patut juga mengendalikan diri untuk tidak pernah menendang seorang anak sebagai hukuman. Itu boleh jadi merusak anggota-anggota badan yang penting, seperti alat kemaluan.
Lidi adalah salah satu alat terbaik dalam menghukum anak. Bagaimana beremosipun orangtua pada waktu merotan anak, lidi itu tidak mungkin merusak tubuh sampai bagian dalam. Itu hanya meninggalkan bekas pada kulit. Dicemeti dengan lidi cukup perih bagi seorang anak. Perasaan perih perlu, supaya anak itu tidak lupa untuk tidak lagi berbuat kesalahan yang sama.

3. Menghukum anak di hadapan orang banyak
Menghukum anak di hadapan orang banyak tidak bijaksana. Anak yang dihukum demikian akan merasa rendah diri terhadap teman-temannya. Tidak mustahil teman-temannya menggunakan peristiwa penghukuman tersebut sebagai bahan untuk mempermainkan anak yang sudah dihukum itu.
Oleh sebab banyak orang yang menyaksikan penghukuman itu, si anak jadi malu. Pikirannya ditutupi malu sehingga tidak mengingat kesalahannya untuk mana ia dihukum.
Dalam keadaan yang sangat memalukan, perasaan dendam kepada ayahnya bertambah besar. Oleh sebab itu bawalah anak yang akan dihukum ke tempat tersembunyi, sehingga kakak-adiknyapun tidak melihatnya. Disanalah ia diberi nasehat sampai sadar akan pelanggarannya.

4. Melarang Makan
menghukum anak dengan jalan melarang makan juga tidak baik. Itu mengganggu kesehatan. Boleh jadi hukuman semacam itu menyebabkan borok dam perut. Cara menghukum ini berlawanan dengan peraturan kesehatan yang setiap orang harus makan pada jam-jam makan dan tidak makan apa-apa diantara jam-jam makan itu. Tidak mustahil tindakan tersebut kelak memberi kesan kepadanya bahwa peraturan-peraturan itu boleh saja diubah-ubah.

5. Merendam anak dalam air
Menghukum anak dengan jalan merendamnya dalam air sangat merugikan. Itu dapat menyebabkan pilek, demam dan brokhitis. Dengan kata lain, cara menghukum demikian bukan mengurangi persoalan, tetapi malahan menambah problema yaitu penyakit.

6. Menghukum Anak yang celaka tanpa sengaja
Banyak orang tua sampai hati merotan anaknya setelah tergelincir di jalanan licin. Padahal tidak disengaja. Orangtua pun tidak selalu berhasil mengelakkan diri dari berbagai macam kesalahan. Mungkin si anak telah berusaha untuk tidak mendapat celaka, tetapi celaka juga. Anak yang sudah berusaha untuk tidak menyusahkan orangtua atau gurunya pasti merasa kecewa jika ia dihukum atas kecelakaan yang sama sekali tidak disengaja itu.

7. menghukum anak yang tidak bersalah
Sering karena terlalu emosi, orangtua menghukum anak yang tidak bersalah. Biasanya ini terjadi jika lebih dari seorang anak yang terlibat dalam suatu peristiwa. Umpamanya piring pecah, adik kecil terluka, kompor terbakar atau dua orang anak sedang berkelahi. Tanpa menyelidik siapa yang menjadi penyebab kejadian itu ayah atau ibu langsung memukul anaknya. Ini salah! Ini sangat mengecewakan anak yang tidak bersalah. Ia kecewa dan merasa dendam kepada orangtua.

Maksud Hukuman Harus Diterangkan
Dengan suara tenang tetapi tegas orangtua atau guru harus menerangkan maksud hukuman. Ia dihukum sebab melanggar. Ia sudah diberitahu berulang kali untuk tidak melakukan hal buruk itu, tetapi tidak menghiraukannya. Ia dirotan sebagai akibat kesalahannya, dan sekaligus agar ia tidak lupa akan larangan orangtua atau guru.
Anak yang sedang dihukum harus minta maaf dan berjanji tidak akan mengulangi pelanggaran itu lagi. Biarlah anak itu mengetahui bahwa ia akan tetap dihukum jika melanggar lagi.

Tidak ada komentar:


My Stats